All I Ask!

Bukan, ini bukan tentang lagu Adelle, yang syair dan suara merdunya mampu melayangkan setiap orang pada imajinasinya. Ini tentang sebuah tanya, yang sejatinya tak perlu ditanyakan.

Kerap kali, dalam diamku aku bertanya…

Mengapa Tuhan mempertemukan, jika kelak harus ada perpisahan

Mengapa Tuhan memberi kebahagian, jika kelak harus ada kesedihan

Mengapa Tuhan begini, dan begitu.

Aku menyadari, nalarku tak mampu menempuh sudut ruang Ilahi, bahkan jika pun aku telah berpulang padaNya.

Tapi sungguh, semua ini kadang membuatku tak lagi mampu berkata…

Bahwasanya, apapun ketetapanMU, akan selalu ada misteri bersamanya, meski kutahu bahwa janjiMu pasti.

Tuhan… diamku kini adalah rangkaian doa panjang yang penuh harap

Sepiku kini adalah rangkaian senyum yang kusimpan untuk menemani asa dan lirih yang kian hadir menggodaku.

Jikapun aku tak harus meminta, maka segalanya akan kupasrahkan dalam sabarku. Sabar yang tak berbatas, dan ikhlas tak berujung.

Untuk kali ini, berikan yang terbaik dari yang terbaik atas jawaban doa panjangku.

#Proxy 12:52

Rindu Terlampau Tuan

Nada sendu di malam ini, seperti mengingatkanku pada syair yang kerap kali kulantunkan. Tak terasa, hangat menitik pada kemelut wajah yang rindu akan sebuah senyum. Senyum tanpa fiksi, namun terurai dengan makna penuh isi.

Hmm… rembulan memang tak nampak malam ini. Namun pada langit-langit pekat di atas sana, kian kutitipkan rasa yang pernah ada, diantara sebaris senyum kau dan aku, Tuan.

Waktu mempertemukan kita begitu cepat, pun sebaliknya. Logika Β menuntun kita pada sebuah kepastian akan sebuah nyata, bahwa Tuan telampau jauh untuk bersemayam dalam sudut hati ini. Hingga kupastikan, rindu ini pun terlampau dalam untuk kuungkapkan, Tuan. Tak ada yang bisa kulakukan saat ini, selain lantunan doa dengan berjuta harap dan asa, untukmu… pada masa yang kau jalani.

Jikapun aku salah dalam memilihmu saat itu, sungguh… sama sekali tak pernah kusesali. Cinta hadir tidak untuk kusesali, karena aku yakin… cinta hadir telah mengajarkanku. Dan aku bersyukur… karenanya aku dapat belajar mencintai tanpa hasrat yang kerap kali menggodaku. Aku belajar mencintai untuk kemudian belajar melepaskan. Sungguh Tuan, aku masih mengukir namamu dalam coretan sederhanaku, atau pada sudut malam saat doa kulafalkan.

Malam ini… Rinduku terlampau Tuan

 

Berdua Saja

Sepintas, ada rasa ingin berdua denganmu, melewati hari tanpa jeda

Sepintas, ada rasa ingin berdua denganmu, melewati malam tanpa batas

Sepintas, ada rasa ingin berdua denganmu, meski sekedar saling memandang

Sepintas, ada rasa ingin berdua denganmu, meski tanpa kata

Sepintas, ada rasa ingin berdua denganmu, tuk sekedar menyandarkan keluhku

Sepintas, ada rasa ingin berdua denganmu, dan merasakan belaian lembutmu

Sepintas, ada rasa ingin berdua denganmu, dan kau memelukku dengan erat

Sepintas, ada rasa ingin berdua denganmu, untuk merajut mimpi baru

Sepintas, ada rasa ingin berdua denganmu, untuk melangkah dan melihat masa depan

Sepintas, ada rasa ingin berdua denganmu, hingga tak ada lagi pelik yang memisahkan

Sapintas, ada rasa ingin bahagia hidup bersamamu, dengan cintamu yang tak pernah habis, tak bersyarat

Tuhan, ijinkan dia memilikiku, pun begitu denganku, ijinkan aku memilikinya

Namun sebelum kau berikan, ijinkan aku untuk bertanya, adakah dia untukku?