Revisi Prompt 3 – Telat

“Gawat.”

Aku melirik jam di tangan, sudah lewat 3 menit! Kupercepat lariku, walaupun tahu bahwa itu hanyalah usaha sia-sia. Aku sudah telat!

“Tidak apa-apa,” kataku menenangkan hati.

Aku mulai memasuki ruangan dan mengetuk pintu. Seketika semua mata di dalam ruangan ini melihat ke arahku. Hari ini adalah hari dimana aku menjalankan sidang skripsiku, dan aku telat 3 menit.

Di depanku, telah duduk 3 dosen penguji. Belum habis nafasku, pandanganku terkesiap seketika melihat kumpulan orang di sudut ruang tersebut. Aku mengernyitkan dahi dan mulai bertanya-tanya.

“Mama, Papa…?.” Aku semakin bingung. “Lho, itu kan orangtuanya Intan, kekasihku. Sedang apa mereka di sini?.” Tanyaku dalam hati semakin tak karusan.

Aku melihat wajah murka dari Ayahku, sementara Ibunya Intan terlihat sangat murung. Jantungku semakin berdegup tak karuan, menahan seribu tanya dalam pikiranku.

“Om, Tante…,” sapaku pada kedua orangtua Intan. “Ada apa? Apa Intan baik-baik saja?,” tanyaku penuh pengharapan.

Suasana tampak bisu. Tiba-tiba Ayahnya Intan berdiri dan memberikan sebuah buku catatan tanpa berkata apa-apa. Bentuknya seperti buku harian berwarna merah hati.

Aku membukanya perlahan. Ada rasa deg-degan yang membuat tangan ini semakin terpengaruh oleh getaran jantungku, tanganku semakin bergetar. Aku membuka buku tersebut, di dalam cover buku itu tertulis…

“Hai Sayang… lihatlah ke belakang.”

Dengan perasaan takut bercampur gelisah, aku membalikkan badan ini perlahan. Seperti seolah melihat sosok hantu, mulutku menganga dan keringat dingin menetes di dahi ini.

“Intan… ?” Aku bertanya dengan nafas tertahan.

Aku melihat sosok Intan, kekasih yang 3 bulan lalu kucampakkan begitu saja. Penampilannya tampak kusam, rambutnya lusuh, dan wajahnya tak bisa ditebak. Sesekali ia menyisir rambutnya dengan tangannya, dan tersenyum simpul. Di samping Intan ada 2 wanita yang  berpakain putih-putih menemaninya, seraya memegang bahu dan pinggan Intan.

Belum sempat aku berkata-kata lagi, tiba-tiba Intan berkata padaku dengan gaya anak kecil.

“Ixixixi… cayaaang… ini aku, Intan. Kekasihmu yang kamu campakkan 3 bulan lalu, heheheh.”

Intan menghampiriku dengan wajah genit. Lalu ia berkata kembali sambil mendekat padaku, berteriak dan menangis diiringi suara tawa.

“KAMU!!, hihihi, kamu udah tinggalin aku sayang. Kamu ga tau yaaa, heheheh. Ini…” Intan menujuk bagian perutnya.

“3 bulan lalu saat kamu campakkan aku, aku sudah TELAT mens dan positif hamil, ahahahaha, hihihi. Aku Telaaaat, Aku hamiil…” Intan berterika-teriak, sesekali menangis, lalu tertawa.

Kedua suster yang menemani Intan membawanya keluar dari pintu ruangan sidang. Aku tidak bisa berkata apa-apa, aku merasakan pusing tak tertahankan. Tiba-tiba ruangan menjadi gelap, dan aku kehilangan kendali, hingga akhirnya pingsan.

Prompt 3 Challenge – Telat

394 kata

Advertisements

One comment on “Revisi Prompt 3 – Telat

  1. Nathalia DP says:

    horor banget..
    lagi mu sidang malah didatengin mantan pacar yg gila huhuhu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s