20 Meter

Malam itu, menjadi malam yang paling menyenangkan untuk Ria. Bagaimana tidak, kerinduannya pada seseorang yang tak bisa ia harapkan, tiba-tiba hadir di depan matanya. Ada rasa kagum pada lelaki itu, karena kali ini dia menepati janjinya.

“Kamu di, mana?” Tanya seseorang di ujung telpon sana.

“Aku di lantai 2 apartemen. Kenapa nanya-nanya?” jawab Ria sekaligus membalikan pertanyaan.

“Aku di lantai dasar nih”

Antara rasa senang dan juga deg-degan, Ria seolah tak percaya akan hadirnya sosok yang ia rindukan. Setelah selesai dengan meetingnya, Ria pun menemui lelaki itu dengan perasaan yang tak menentu. Dari jauh nampak dua sosok lelaki. Yang satu memakai jaket dan topi, sementara yang satu lagi, bergaya lebih keren dibanding yang satunya. Dalam hati Ria, bergumam. “Ya Tuhan, dia beneran ada di depan mataku.”

Dengan senyum yang berusaha ia simpulkna untuk menutupi deg degan nya, Ria menghampiri kedua lelaki tersebut.

“Hai, apa apakabar Rangga, Deni?” Sapa Ria pada kedua lelaki itu. Mereka berjabat tangan layaknya membuka sebuah petemuan.

Tak lama dari pertemuan itu, mereka bertiga menuju sebuah mini market untuk sekedar membeli kopi dan berbincang-bincang. Banyak hal yang mereka bahas. Tapi jelas, sosok yang sangat dekat Ria adalah Rangga. Deni adalah seorang kerabat Rangga yang kebetulan ikut daam pertemuan ini. Di mini market tersebut, bukannya berbincang layaknya kekasih yang merindu, Ria dan Rangga hanya menghabiskan dengan obrolan penuh perdebatan. Ya, hal tersebut sering terjadi beberapa waktu ini. Ria dan Rangga sendiri tidak menyadari, mengapa akhir-akhir ini mereka mudah sekali berdebat, seperti tidak bisa bicara baik-baik saja.

Waktu menunjukkan hampir tengah malam. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyudahi pertemuan ini, karena esok hari Ria harus mengkoordinir sebuah acara pernikahan. Mereka keluar dari mini market tersebut. Tapi dalam perjalanan inilah, mereka justru mendapatkan suasana yang indah, dan begitu menyenangkan.

Langkah mereka menuju apartemen Ria, seolah terpaut ratusan Km. Padahal kenyataannya, jarak antara apartemen dan mini market tersebut kurang lebih 20m. Ria mulai berbicara dengan lembut dan manja, seraya sedikit-sedikit mencubit pinggang Rangga. Bak gayung bersambut, Rangga pun melakukan hal yang sama. Rangga memegang tangan Ria, memeluknya dalam langkah-langkah kecil, sambil sesekali berbincang ringan.

“Sebentar banget ya kita, ketemu”

“Iya, aku sengaja menemui kamu karena aku bener-bener kangen sama kamu, Ria”

Ditemani bintang-bintang di langit yang menjadi saksi kisah mereka, dan Deni yang tepat berada di belakang memperhatikan langkah keduanya, perjalanan 20 meter menuju apartemen menjadi hal terindah yang Ria dapatkan. Secara normal, tak ada hal yang istimewa, tapi Ria begitu menikmatinya. Ria begitu mengenang setiap langkah bersama Rangga dalam jalan setapak itu. Itu disebabkan karena mereka sudah lama tidak bertemu.

“20 meter, adalah jarak yang tidak terlalu jauh. Namun, dengan indahnya alam yang menemani kita di kesunyian malam, kita menyatu dalam rindu yang menggelora. Indah rasanya, dan nyaman kurasakan ketika dapat bersandar sedikit dan sesaat di bahumu. Dan aku tak akan mungkin melupakannya”

Pada akhirnya, Ria dan Rangga kembali terpisah tanpa asa yang jelas. Mengubur sebuah kisah dalam langkah 20 meter. Ada kisah yang tak terungkap dari mereka, namun selalu menemukan babak baru, bahkan terpaksa harus berakhir, memulai lagi atau kembali berakhir. Romantika cinta yang rumit.

Advertisements

One comment on “20 Meter

  1. Carra says:

    curcol ini yaaa…??? *nuduh sembarangan* *ditendang keluar*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s