Lilin Hati

Aku tersadar dalam lamunan yang mengawang
Ketika tetesan lilin mulai melirih di tanganku
Tak sempat ku menghindar, lilin itu terjatuh dari genggamanku
Hancur, berantakan hingga akhirnya patah.

Hari ini tak ada yang istimewa untukku, selain menahan kerinduan yang tersirat. Apakah benar rindu yang kurasa, atau ini hanyalah lintasan hasratku saja? Entahlah…episode kehidupan ini tak pernah bisa kutebak, meski tak semuanya misteri, dan aku hanya perlu meyakini saja akan apa yang akan Tuhan berikan untukku.

Dalam sepi aku merasa, dalam keramaian pun aku merasa. Semua itu selalu datang dan pergi tanpa kutahu pasti. Mungkin, inilah yang tersisa dalam lilin yang tak lagi menampakkan bentuknya. Namun harapan untuk menikmati cahayanya masih dapat kurasakan. Ya, lilin hati yang masih tersisa, menyala…. meskipun sinarnya begitu kecil.

Meski tak sempat kutiupkan lilin ini, bahkan nampak hancur tak berbentuk, panasnya lelehan itu masih membekas dalam rasaku. Perih, meninggalkan sensasi yang tak kunjung hilang. Angin… sampaikan sinarku.

Advertisements

One comment on “Lilin Hati

  1. irmasenja says:

    Rindu,….
    Adakah yang mampu mengikis rasa manis sekaligus pahit ini ?
    manis jika mendapat balasan, pahit jika tak tersampaikan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s