Candu Cinta

200….

Entah makna apa yang tersimpan dalam angka itu. Nana hanya menuliskannya dalam secarik kertas lalu melipatnya.  Bagi Nana, angka 200 tak hanya menorehkan kisah yang penuh keindahan, namun mampu menimbulkan sayatan yang meninggalkan luka. Memerikan sakit, namun juga tersimpan ngilu yang memberikan kenikmatan.

Nana terdiam di sudut ruangan di kamarnya. Dia melihat pada satu angan, akan sebuah asa yang tak terungkap. Tatap matanya tak beraturan, bahkan sesekali ia hanya menghela napas dan memegang kepalanya seperti berpikir keras akan sesuatu.

Tuhan, aku ingin mengakhiri semua ini. Bagaimana mungkin rasa ini kembali terkuak, bahkan ketika aku mulai kembali menata hatiku? 

Nana semakin resah. Ia hanya berpikir dan berpikir, berharap malam ini ia mampu menemukan kekuatan untuk kembali melangkah. Seseorang yang sempat hadir dalam hidupnya telah mengoyak hatinya lagi, hingga tak beraturan. Seolah mengulang luka lama, tapi entah mengapa… Nana seperti terjerembab pada sebuah nostalgia yang begitu indah.

Apakah aku mencintainya? batin Nana.

Ah, ini bukan cinta. Rasa ini hanyalah sebuah imajinasi akan hasrat yang terekam dalam sebuah peristiwa. Rasa ini bagian dari kepincangan sepasang kekasih yang berada dalam sebuah persimpangan. Ini tidak boleh dibiarkan. 

Nana menyadari, bahwa lelaki yang ia rindukan malam ini, tak pantas untuk diharapkan. Lebih tepatnya, begitupun keadaan Nana. Karena esok akan menjadi hari bersejarah bagi Nana, di mana seorang lelaki akan menjadikannya sebagai seorang istri. Namun, Nana ingat betul kenangan ratusan meter yang ia lewati bersama lelakinya itu. Lelaki yang selalu ia sebut dengan panggilan “Lelakiku”.

Malam semakin dingin, ketika akhirnya Nana sampai pada sebuah panorama hati dan kembali merangkai bait-bait rasa yang akan tersampaikan melalui angin malam. Ia berharap bahwa rembulan memberikan jawaban atas semua yang ia rasakan malam ini.

Lelakiku… mengapa kau hadir kembali menyentuh rasa ini?

Mengapa tak kau biarkan aku melangkah bersama seseorang yang tulus mencintaiku?

Jika perpisahan tak cukup kuat  bagimu untuk melepaskanku, maka ikhlaskan hatimu untuk membiarkanku berbahagia dan merenda kehidupan baru esok hari bersama suamiku.

Lelakiku, andai ada satu kesempatan lagi untuk  menemuimu, meski ini akan menuai keabsahan cinta, namun ijinkan aku memelukmu dengan hangat. Satukan kembali aliran darah yang pernah menyatu, dalam jarak 5 cm pandangan kita. 

Lelakiku, jika permintaan ini belum bisa kau kabulkan, dan meskipun kau datang lalu pergi seperti terus mengukir sayatan dalam hidupku, cukuplah aku yang menjadi pembatasmu. Karena aku yakin kau tak akan mampu membuat batas pada maumu, yang menjadi mau kita. Biarlah kisah indah ini terekam dalam bingkai cerita kita. Aku rela tak memilikimu, dan kuharap kau pun begitu. Meskipun candu cinta ini masih tertanam indah dalam hatiku. Percayalah, kita bisa melewatinya.

Terima kasih karena engkau masih ada untukku, Lelakiku.

Pergilah sejauh mungkin dariku, namun jangan berhenti mencintaiku. 

Aku yang merindukanmu – Nana

#FiksiMalam

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s