Seperti Hujan

“Apa yang akan terjadi dengan kita?” tanyaku padamu.

Hujan kian membasuh keheningan antara kita. Malam itu, aku dan kamu hanya menghabiskan waktu bersama derasnya hujan dalam mobil yang terparkir di sebuah mall. Aku meminta perpisahan untuk kesekian kalinya, meski kutahu, ini akan sulit kujalani.

“Sudahlah, kamu engga usah bilang pisah-pisah terus, jalani saja dulu yang ada. Aku sayang kamu, Manda.” tegas Rio.

“Iya, tapi kan…”

Secepatnya Rio menggenggam tanganku, lalu memelukku. Seketika itu, hujan terasa semakin deras, menemani kehangatan aku dan Rio yang terhanyut dalam suasana alam. Aku terbuai dalam pelukannya, hingga ia kembali mencumbuku begitu lembut. Ah yaa, aku ingat saat itu. Saat hujan menjadi saksi akan kisah yang tak pernah terbingkai dengan pasti.

Hujan akan selalu hadir dengan kisah-kisah terbaru mengirinya. Dan hujan… selalu membutuhkan  kehangatan yang akan menyelimuti  jiwa-jiwa yang kosong. Seperti aku dan kamu, yang merangkai kisah dalam hujan. Bagaimana dengan hujan kali ini? Apakah sama?

Note : 150 kata

ruangfiksiku

Foto : dokumen pribadi

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s