Jera

Saat waktu kembali menyatukan kita dalam sebuah masa, seribu harap akan hadirnya kisah yang indah terbersit dalam pikirku.

Meski hanya kisah yang sederhana, setidaknya itu akan menjadi pelipur kerinduanku yang menyesakkan.

Rindu yang mendawai, teriring kenangan yang tak terperi, terikat dalam simbol aku dan kamu.

“Apakabarmu? ” Tanyaku kemarin.

Ah, nampaknya tak ada jawaban yang kudapatkan, hanya lembaran putih yang menyisakkan debu.

Dan ketika pandang menyatukan kita, lagi… tak kutemui makna mendalam di sana. Hanya sebuah tatapan kosong, memudar, bahkan menjauh.

“Apakah ini pertanda bahwa kau telah benar-benar menghapusku dalam kehidupanmu? Mudahkah itu bagimu?”

Sejak kau mengacuhkan pertemuan kita dalam sebuah janji, tak ada yang tersisa darimu, bahkan sedikit kata maaf atas ingkarmu padaku.

Perih rasanya ketika rasa ini tak berbalas seperti dulu, perih rasanya tak ada lagi sikap pedulimu padaku. Namun aku bisa apa?

Aku benci diriku yang mengingatmu kembali

Aku benci diriku yang dengan mudah mengharapkanmu

Aku benci karena kini aku kembali terjatuh dalam rasa yang sama

Aku benci, karena masih menyimpan kisah ini dalam ingatanku

Aku benci menitikkan air mata yang sia-sia untukmu, seseorang yang bukan untukku

Aku benci… Aku jera!

Tuhan, bantu aku untuk melupakannya, bantu aku menghapus rasa cinta yang menyakitkan.

Rasaku, harapku, peduliku, inginku, semua hanya sia-sia. Karena kutahu, dia tak lagi sama seperti dulu, dia bukan Lelakiku dulu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s