#RuangFiksi “Rasa yang Tertinggal”

“Indah, terasa indah, bila kita terbuai dalam alunan cinta”
Sebuah lirik yang terbersit dalam irama malam ini, mengantarkan rasa untuk berlabuh, mencari tempat untuk menepi.

Kemanakah jiwa yang pernah tertambat dalam keindahan rasa? Atau mungkin, kini tak ada lagi harap yang tercipta?

Hati kembali terikat, rasa kembali terukir
Berharap sang mentari hadir menghangatkan dingin yang menerpa. Menari indah, serupa pelangi yang berwarna.

Rindu seperti butiran debu. Sekuat apapun mengikatnya, sekuat apapun menggenggamnya, ia tak mampu bertahan dan dengan sendirinya akan keluar melalui celah-celah yang terlewati udara. Begitupun rinduku saat ini. Tak terbendung, meski akhirnya hanya mampu kuurai melalui kata-kata.

Nyatanya, menyadari bahwa rasa hanyalah sebuah rasa, ia akan selalu sama jika tak ada kata terucap, tak ada wajah yang mampu kau sentuh, dan tak ada raga yang bisa kau dekap.

Mendekap rasa, menyimpannya dan mengikat dengan indah, begitulah hari-hari yang kulewati. Tak peduli bagaimana lagi mentari menampakkan wajahnya untukku, aku hanya ingat, aku masih menyimpannya dengan indah dalam hatiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s