Catatan dalam Kereta

Kereta melaju kencang, hari pun semakin gelap. Aku memandang ke luar jendela, dan sesekali coba memejamkan mata. Dalam pandangku, aku berpikir, bahkan mengajak diriku berbicara… “Hey, apakabarmu, diriku?”

Hmm… Sejak keputusan besar dalam hidupku, aku praktis lupa bagaimana kondisiku saat ini. Aku seolah memaksa semuanya harus tetap berjalan baik-baik saja, dan meyakinkan diri bahwa semua yang terjadi tak perlu aku risaukan. Begitulah aku. Kadang, setiap kali aku mencoba menelaah, aku kerap kali memaksa diriku terlalu keras untuk bertahan. Tentu saja, semua itu kulakukan agar aku tak menjadi lemah, apalagi semakin terpuruk.

Lalu, bagaimana diriku sekarang?

Entahlah… kadang aku merasa semuanya baik. Namun sebetulnya, aku tidak baik. Episode yang Tuhan gariskan saat ini untukku, tak lagi menjadi sesuatu yang biasa bagiku. Aku terperanjat, bahkan bibirku kelu tak lagi mampu berkata, meski sekedar tuk bertanya, “mengapa?”

Aku kembali melihat sekitarku, masih gelap. Hanya terdengar suara mesin kereta menyentuh bongkahan rel. Sementara itu, jiwa-jiwa yang sedang lelah, satu persatu memejamkan matanya, untuk sedikit memberikan kesempatan tubuh mereka beristirahat. Damai, Begitulah pancaran dari wajah-wajah tertidur itu, meski dalam ketidak sadarannya… mereka tetap berpikir.

Tiba-tiba saja, napasku terasa semakin sesak, dadaku sakit, dan perutpun melilit. Bukan, ini bukan karena aku kelaparan. Mungkin saja saat ini tubuhku mulai memberontak dan menuntut haknya untuk beristirahat. Ahh…bersabarlah sedikit, diriku. Tolong jangan membuat keadaan susah, ya.

Aku melihat jam tanganku, sampai kutuliskan paragraph ini, jam di tanganku menunjukkan pukul 9.10 malam. Entah di mana aku saat ini. Aku hanya ingat, Semarang tempat kereta ini berhenti sejenak tadi.

Aku merasa tubuhku semakin lelah, matapun semakin tipis pandangan, Lalu akupun menyandarkan kepalaku pada dinding jendela kereta. Sayangnya, pikirku tak mau berhenti, sehingga aku terus merasakan kecamuk dalam otakku.

Kamu… tiba-tiba saja terlintas dalam pikiranku. Kamu, yang ternyata membuat pikirku tak mampu jeda sejenak malam ini. Kamu… iya kamu!

Saat aku mencari, mencoba menangkap makna tentangmu pad gelapnya pemandangan di luar, sayangnya aku tidak menemukan deskripsi yang tepat untuk menggambarkan pikirku tentangmu saat ini. Aku hanya ingat kamu, entah dengan perasaan apa. Yang aku tau persis, keningku berkenyit dan napasku kembali sesak. Satu tetes air mata kini jatuh membasahi pipiku. Apa artinya ini? Apakah aku mengingatmu pada semua hal indah yang pernah kau berikan, atau sebaliknya? Dadaku semakin sesak, dan aku tiba-tiba tersedak.

Aku mengatur napasku kembali dan mencoba mengembalikannya kepada kondisi alpha teta. Dalam diamku ini, aku mencoba kembali dan  memaksa diriku untuk menemukan makna yang tersirat dalam ingatanku. Sayangnya, lagi-lagi aku tak menemukan seperti apa bentuknya. Aku kembali merangkai puzzle pikirku yang sempat berserakan. Dan pada sang malam… Aku titipkan makna tak berbentuk ini, agar engkau kian memberikan sedikit cahaya bagiku, memberikan harapan indah pada esok pagi, dan merangkainya kembali dalam bahagia yang kau titipkan.

Padamu… terima kasih karena telah mengirimkan energy yang membuatku teringat padamu. Sayangnya, aku masih belum bisa memaknai apa yang kurasakan, selain kosong, dan hanya terbalut seribu pertanyaan yang tak perlu kutanyakan lagi.

– Pekalongan –

Dalam kereta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s