Costa [MiniFiksi]

Riuh suara musik malam itu, hampir saja tak menyisakan kisah. Hanya sesekali pandang tertuju pada sekumpulan orang. Ah, dunia seperti ini memang tak asing bagiku, kala aku masih berteman dengan dentuman musik yang kerap kali menghentak dalam setiap iramanya

Seperti dejavu, aku menjadi tak peduli pada sekitar, aku hanya ingin bersenang-senang, semakin larut dan menikmati duniaku. Sementara irama yang menggerakkan tubuh-tubuh gemulai itu, sudah tak lagi menarik untukku. Aku hanya duduk diam, sesekali menengok ke arah kanan, atau kiri. Yah, tak ada yang istimewa. Bagiku tetap sama, sepiku diantara keramaian.

Tea menemaniku duduk sambil sesekali berbincang denganku. Hanya Aura saja yang sejak tiba di tempat ini begitu lincah, dan bertegur sapa dengan temannya yang lain. Untuk seorang teman yang baru kukenal, Aura adalah teman yang asik. Meskipun ternyata hidupnya tragis dengan hadirnya cancer saat ini.

Waktu berjalan satu jam, dua jam. Sampai tiba pandanganku seperti ditarik pada satu wajah. Dalam lampu kerlap-kerlip, mana mungkin aku bisa hapal sekaligus sosok yang sekilas tadi beradu pandang denganku. Hmm, apalagi dia hanyalah turis asing, yang bagiku, bukanlah seseorang yang layak menjadi temanku. Maaf, sampai sebelum perkenalan itu terjadi, aku memang tak pernah bisa percaya dengan seorang “bule.” Sulit menemukan chemistry dengan kaum mereka, bagiku. Atau, mungkinkah aku terlalu introvert pada diriku sendiri? Namun lain halnya dengan Aura, dia bisa dengan mudah membaur dengan bule-bule tersebut. Female or male.

“What’s Your name?”

Pertanyaan tersebut membuatku tersadar dari lamunanku diantara suara musik.

“Mel,” Jawabku dingin.

Sampai kusadari, ternyata pertanyaan itu muncul dari seorang sosok yang tadi beradu pandang denganku.

“And You?”

“Costa.”

Aku hanya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut. Tak banyak pembicaraan awal kami, selain saling bertanya asal dari mana, dan datang bersama siapa.

Ini memang perkenalan pertamaku dengan seorang pria asing. Sedikit aneh memang, atau mungkin aku nggak gaul. Whatever lah. Aku tetap pada pendirianku, Bule nggak pernah ada dalam kamusku. Meskipun perkenalan dan obrolanku dengannya cukup membuat kami sedikit saling mengenal. Beberapa kali ia pun mengajakku berbicara, dan iseng dengan permainan tangannya.

Waktu terus berjalan, dini haripun tiba. Sementara esok aku harus kembali ke kota asalku. Dan aku memutuskan untuk kembali ke hotel.

“See you.”

Caraku berpamitan pun tak terlalu resmi. Dan tak lama aku meninggalkan tempat itu, tempat yang mempertemukan aku dengannya.

********

Tinggi sekitar 190, Paras usia 40 yang sedikit menggoda, mata mungil dengan pancaran hijau, namanya…Costa.

… Aku menyesal kenapa harus cepat kembali ke hotel. Sosok yang meruntuhkan pendirianku, membuat malamku penuh lamunan. Sementara kupastikan tak ada lagi kesempatan untuk bertemu dia, selain saling menyimpan no telepon. Haruskan aku menghubungimu, Costa? Atau biarkan semua berlalu dan kulupakan saja. Ah, sialan, bule itu memikat hatiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s