Rindu Terlampau Tuan

Nada sendu di malam ini, seperti mengingatkanku pada syair yang kerap kali kulantunkan. Tak terasa, hangat menitik pada kemelut wajah yang rindu akan sebuah senyum. Senyum tanpa fiksi, namun terurai dengan makna penuh isi.

Hmm… rembulan memang tak nampak malam ini. Namun pada langit-langit pekat di atas sana, kian kutitipkan rasa yang pernah ada, diantara sebaris senyum kau dan aku, Tuan.

Waktu mempertemukan kita begitu cepat, pun sebaliknya. Logika  menuntun kita pada sebuah kepastian akan sebuah nyata, bahwa Tuan telampau jauh untuk bersemayam dalam sudut hati ini. Hingga kupastikan, rindu ini pun terlampau dalam untuk kuungkapkan, Tuan. Tak ada yang bisa kulakukan saat ini, selain lantunan doa dengan berjuta harap dan asa, untukmu… pada masa yang kau jalani.

Jikapun aku salah dalam memilihmu saat itu, sungguh… sama sekali tak pernah kusesali. Cinta hadir tidak untuk kusesali, karena aku yakin… cinta hadir telah mengajarkanku. Dan aku bersyukur… karenanya aku dapat belajar mencintai tanpa hasrat yang kerap kali menggodaku. Aku belajar mencintai untuk kemudian belajar melepaskan. Sungguh Tuan, aku masih mengukir namamu dalam coretan sederhanaku, atau pada sudut malam saat doa kulafalkan.

Malam ini… Rinduku terlampau Tuan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s